Kepergian Ayah ku Tercinta tanggal 11- 11 - 2010 membuat ku semakin mengerti akan Firman Tuhan dan karna OlehNYA lah kami bisa kuat.
Kepergian Adikku tercinta Junior Hutagaol 15 -3 -2011 membuat Duka yang sangat dalam hampir hampir aku seperti jatuh kedalam satu Lobang yang dalam yang tidak bisa ku naiki untuk keluar. Namun hanya Karena Tangan Yesus yang bisa mengangkat ku dari dalam dan membuatku kuat. dengan kepergian Adikku genaplah FirmanNya bagiku bahwa Tak terselami jalanNya. Namun aku percaya JalanNya adalah Indah dan Rancangannya adalah SEMPURNA
Ruwiyanto Hutagaol
Selasa, 22 Maret 2011
Kamis, 22 Mei 2008
UANG" Tulisan ini saya ambil dari www.maqdalene.net"
Uang
U A N G
Beberapa tahun yang lalu saya sempet mikir keras: kenapa kalau orang ngasih uang atau ngasih persembahan harus ngumpet-ngumpet biar nggak ketahuan orang lain; atau yang menerima uang langsung dimasukin ke kantong atau kalau cewek dimasukin ke tas? Kebanyakan tingkah lakunya kalau disodorin uang pura-pura matanya nggak merhatiin si pemberi, tapi tangannya bisa-bisanya nyerobot nyaut uang itu, dengan kilat dimasukin kantong, tapi matanya tetep ngawasin si pemberi dan mulutnya masih nrocos ngobrol yang nggak sepenting apa yang telah dilakukannya. Jadi seakan-akan nggak terjadi pertukaran apa pun, tetapi persilangan tangan udah terjadi, hanya tidak terucap. Heran khan?
Pernah mikir gitu nggak? Maksudnya kok kenapa uang harus diperlakukan dengan cara demikian? Mungkin hal ini nggak dipikir oleh banyak orang karena hal ini sepertinya lazim, semua orang melakukannya, memperlakukannya, diperlakukannya jadi EGP lah!! Atau sebaliknya, kenapa kita harus diperlakukan begitu oleh uang? Kenapa semua orang hampir punya tabiat yang sama kalau udah berurusan dengan uang? Kenapa sampai kita tega diperlakukan oleh uang dengan cara yang demikian? Why? What’s wrong with money? Or What’s wrong with us in regard with money matters?
Mulai saat itu saya bertekad untuk sedikit demi sedikit mendobrak kebiasaan aneh yang berhubungan dengan duit tersebut. Salah satu contoh yang saya rombak ya kalau saya disodorin amplop, entah itu berkat, entah itu hasil khotbah (baca: kerja). Nah kalau biasanya orang ngasihnya rada keliatan ngumpet-ngumpet biar nggak keliatan orang lain, saya rombak cara ini dengan menerima dengan lapang dada, saya nggak perlu “malu” atau ngumpet. Saya terima dengan slow motion yang menggelikan penonton atau membingungkan si pemberi tanpa harus cepet-cepet masukin u a n g ke tas. Dan jika saya memberi, tidak harus di tempat tertutup, siapa saja boleh melihat, tetapi tidak dimaksudkan untuk pamer lho. Maksudnya hanya nggak perlu ditutup-tutupin. Selain itu, mengenai hal keuangan, saya sekarang bisa lebih terbuka, nggak kayak dulu harus sembunyi.
Ini tidak ada maksud jahat or buruk, no! Saya hanya ingin hal yang bersangkutan dengan uang itu berlangsung dengan wajar, baca lagi, berlangsung dengan wajar. Kenapa sih harus sembunyi-sembunyi? Emang apa salahnya dengan si u a n g? Apa salahnya dengan kita-kita? jadi kalau kedua belah pihak, baik uang baik manusianya nggak ada salahnya, kenapa harus ada yang disembunyikan?
Pengamatan One:
U a n g, yang seharusnya selayaknya sewajarnya menjadi hamba kita, sering yang terjadi adalah kebalikannya. Kenapa untuk memberikan u a n g kok nggak disertai keterbukaan dan lapang dada? Kenapa ada kesulitan besar saat harus mengeluarkan u a n g yang hanya merupakan sebuah kertas alat pengganti? Apakah ada salahnya dengan hati kita?
Pengamatan Two:
Kalau Tuhan sampai berfirman, berjanji bahwa jika kita menabur pasti menuai lebih, kenapa kita takut menabur? Apakah kesalahannya pada u a n gnya or hati kita? Kenapa kita takut merilis u a n g tersebut demi suatu tuaian?
Pengamatan Three:
Kalau kita menabur, kita justru doing favor for ourselves! My goodness, banyak orang dibutakan dengan kebenaran ini – jika kita memberi, menabur, kita menumpuk perbuatan baik untuk diri kita sendiri! Wahai Saudara Saudariku kekasih, ketahuilah bahwa jika Anda menabur sedikit, Anda berbuat kebaikan sedikit untuk dirimu sendiri; sebaliknya kalau Anda menabur banyak Anda berbuat baik untuk masa depan Anda sendiri, sebab Anda akan menuai banyak. Jadi keuntungan kebaikannya adalah untuk diri sendiri.
Pengamatan Four:
Anda mungkin nggak nyadar bahwa kalau memberi lebih banyak Anda menuai banyak. Anda tidak menghitung berkat yang masuk, atau takut berbuat itu sehingga nggak pernah “mujur” mendapatkan tuaian yang banyak. “Faktor keberuntungan” ini hanya bisa berhasil jika disertai dengan motivasi yang tulus, bukan ‘mancing dengan teri untuk dapet paus’ motivation! Memberi kepada Tuhan bukan dengan hati pemancing, tetapi kasih, percaya, ketulusan, ikhlas dan takwa, amin amin ya robal alaminnnn.
Moral di balik kisah urusan u a n g ini adalah melakukan hal yang sebaliknya, ya itu kuncinya, kebalikannya. Jika kita takut, kita harus berani; jika ditutup-tutupin harus dibukakan; jika berat, harus dibuat ringan; jika susah dibikin gampang; jika setan ngajarin agar takut karena hari depan, sebaliknya harus yakin apa yang sanggup Tuhan lakukan untuk masa depan. Dia sanggup, Dia kaya, Dia murah hati, Dia tidak mungkin ingkar janji.
Foto di bawah ini adalah mereka-mereka yang sudah bebas dengan masalah u a n g. Saya sendiri terkagum-kagum kalau disodorin laporan akhir bulan dari kantor The Kingdom yang mendaftar nama-nama orang-orang hebat ini yang merilis u a n g mereka untuk pekerjaan Tuhan. Mereka orang yang bebas dari daftar pengamatan one to four di atas. Mereka mungkin juga nggak nyadar bahwa taburan yang dulunya dikit udah mulai beranjak naik. Kenapa saya bilang nggak nyadar? Mereka nyadar sih kalau ngasihnya makin tinggi (wah kalau urusan si u a n g itu sampai sebuntut-buntut itungan kecil juga nggak luput dari ingatan khan?), tapi mereka nggak nyadar kalau penambahan berkat dan kenaikan-kenaikan itu ternyata hasil tuaian kesetiaan mereka dalam menabur (selain itu juga iman), makanya sekarang bertambah, ini namanya menuai!
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan Amsal 11:24. Ketakutan adalah senjata yang paling ampuh untuk melemahkan keuangan kita. Pembebasan u a n g adalah pintu gerbang menuju kepada kemakmuran, tetapi kemakmuran itu bukan suatu tujuan, tetapi tujuan Tuhan adalah memakmurkan kita untuk kemakmuran penggenapan rencana-Nya di bumi. (Coba baca sekali lagi mulai dari kata Pembebasan) Jadi, kalau pintu gerbang menuju kemakmuran itu sudah jebol, maka dengan mudah dan kekayaan akan berbual-bual mengalir dilimpahkan padamu. Katakan Amin!
Intinya, kalau kita sudah bebas dari kendala terbesar yaitu u a n g, maka Tuhan akan dengan mudah melepaskan kekayaan bumi kepada orang-orang yang hatinya tidak terikat dengan u a n g.
Orang-orang di bawah ini namanya Participants (termasuk yang di tengah juga, baca: bebas daftar pengamatan one to four). Participant artinya orang yang berpartisipasi dalam rencana Tuhan untuk memperlebar kapling Sorga di bumi dengan u a n g mereka yang dipercayakan lewat kami. Dengan uang mereka, kami menuai jiwa-jiwa banyak banget. Nggak ada kebanggaan, semua dari Tuhan, dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan – kami cuman pengelola, memberi sebagaimana yang diperintahkan Tuan kami. Here we are
Tulisan ini saya ambil dari www.Maqdalene.net bagi anda yang inginmelihat tulisan dari DR. Maqdalene Kawotjo bisa mengunjungi WEB ini.
U A N G
Beberapa tahun yang lalu saya sempet mikir keras: kenapa kalau orang ngasih uang atau ngasih persembahan harus ngumpet-ngumpet biar nggak ketahuan orang lain; atau yang menerima uang langsung dimasukin ke kantong atau kalau cewek dimasukin ke tas? Kebanyakan tingkah lakunya kalau disodorin uang pura-pura matanya nggak merhatiin si pemberi, tapi tangannya bisa-bisanya nyerobot nyaut uang itu, dengan kilat dimasukin kantong, tapi matanya tetep ngawasin si pemberi dan mulutnya masih nrocos ngobrol yang nggak sepenting apa yang telah dilakukannya. Jadi seakan-akan nggak terjadi pertukaran apa pun, tetapi persilangan tangan udah terjadi, hanya tidak terucap. Heran khan?
Pernah mikir gitu nggak? Maksudnya kok kenapa uang harus diperlakukan dengan cara demikian? Mungkin hal ini nggak dipikir oleh banyak orang karena hal ini sepertinya lazim, semua orang melakukannya, memperlakukannya, diperlakukannya jadi EGP lah!! Atau sebaliknya, kenapa kita harus diperlakukan begitu oleh uang? Kenapa semua orang hampir punya tabiat yang sama kalau udah berurusan dengan uang? Kenapa sampai kita tega diperlakukan oleh uang dengan cara yang demikian? Why? What’s wrong with money? Or What’s wrong with us in regard with money matters?
Mulai saat itu saya bertekad untuk sedikit demi sedikit mendobrak kebiasaan aneh yang berhubungan dengan duit tersebut. Salah satu contoh yang saya rombak ya kalau saya disodorin amplop, entah itu berkat, entah itu hasil khotbah (baca: kerja). Nah kalau biasanya orang ngasihnya rada keliatan ngumpet-ngumpet biar nggak keliatan orang lain, saya rombak cara ini dengan menerima dengan lapang dada, saya nggak perlu “malu” atau ngumpet. Saya terima dengan slow motion yang menggelikan penonton atau membingungkan si pemberi tanpa harus cepet-cepet masukin u a n g ke tas. Dan jika saya memberi, tidak harus di tempat tertutup, siapa saja boleh melihat, tetapi tidak dimaksudkan untuk pamer lho. Maksudnya hanya nggak perlu ditutup-tutupin. Selain itu, mengenai hal keuangan, saya sekarang bisa lebih terbuka, nggak kayak dulu harus sembunyi.
Ini tidak ada maksud jahat or buruk, no! Saya hanya ingin hal yang bersangkutan dengan uang itu berlangsung dengan wajar, baca lagi, berlangsung dengan wajar. Kenapa sih harus sembunyi-sembunyi? Emang apa salahnya dengan si u a n g? Apa salahnya dengan kita-kita? jadi kalau kedua belah pihak, baik uang baik manusianya nggak ada salahnya, kenapa harus ada yang disembunyikan?
Pengamatan One:
U a n g, yang seharusnya selayaknya sewajarnya menjadi hamba kita, sering yang terjadi adalah kebalikannya. Kenapa untuk memberikan u a n g kok nggak disertai keterbukaan dan lapang dada? Kenapa ada kesulitan besar saat harus mengeluarkan u a n g yang hanya merupakan sebuah kertas alat pengganti? Apakah ada salahnya dengan hati kita?
Pengamatan Two:
Kalau Tuhan sampai berfirman, berjanji bahwa jika kita menabur pasti menuai lebih, kenapa kita takut menabur? Apakah kesalahannya pada u a n gnya or hati kita? Kenapa kita takut merilis u a n g tersebut demi suatu tuaian?
Pengamatan Three:
Kalau kita menabur, kita justru doing favor for ourselves! My goodness, banyak orang dibutakan dengan kebenaran ini – jika kita memberi, menabur, kita menumpuk perbuatan baik untuk diri kita sendiri! Wahai Saudara Saudariku kekasih, ketahuilah bahwa jika Anda menabur sedikit, Anda berbuat kebaikan sedikit untuk dirimu sendiri; sebaliknya kalau Anda menabur banyak Anda berbuat baik untuk masa depan Anda sendiri, sebab Anda akan menuai banyak. Jadi keuntungan kebaikannya adalah untuk diri sendiri.
Pengamatan Four:
Anda mungkin nggak nyadar bahwa kalau memberi lebih banyak Anda menuai banyak. Anda tidak menghitung berkat yang masuk, atau takut berbuat itu sehingga nggak pernah “mujur” mendapatkan tuaian yang banyak. “Faktor keberuntungan” ini hanya bisa berhasil jika disertai dengan motivasi yang tulus, bukan ‘mancing dengan teri untuk dapet paus’ motivation! Memberi kepada Tuhan bukan dengan hati pemancing, tetapi kasih, percaya, ketulusan, ikhlas dan takwa, amin amin ya robal alaminnnn.
Moral di balik kisah urusan u a n g ini adalah melakukan hal yang sebaliknya, ya itu kuncinya, kebalikannya. Jika kita takut, kita harus berani; jika ditutup-tutupin harus dibukakan; jika berat, harus dibuat ringan; jika susah dibikin gampang; jika setan ngajarin agar takut karena hari depan, sebaliknya harus yakin apa yang sanggup Tuhan lakukan untuk masa depan. Dia sanggup, Dia kaya, Dia murah hati, Dia tidak mungkin ingkar janji.
Foto di bawah ini adalah mereka-mereka yang sudah bebas dengan masalah u a n g. Saya sendiri terkagum-kagum kalau disodorin laporan akhir bulan dari kantor The Kingdom yang mendaftar nama-nama orang-orang hebat ini yang merilis u a n g mereka untuk pekerjaan Tuhan. Mereka orang yang bebas dari daftar pengamatan one to four di atas. Mereka mungkin juga nggak nyadar bahwa taburan yang dulunya dikit udah mulai beranjak naik. Kenapa saya bilang nggak nyadar? Mereka nyadar sih kalau ngasihnya makin tinggi (wah kalau urusan si u a n g itu sampai sebuntut-buntut itungan kecil juga nggak luput dari ingatan khan?), tapi mereka nggak nyadar kalau penambahan berkat dan kenaikan-kenaikan itu ternyata hasil tuaian kesetiaan mereka dalam menabur (selain itu juga iman), makanya sekarang bertambah, ini namanya menuai!
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan Amsal 11:24. Ketakutan adalah senjata yang paling ampuh untuk melemahkan keuangan kita. Pembebasan u a n g adalah pintu gerbang menuju kepada kemakmuran, tetapi kemakmuran itu bukan suatu tujuan, tetapi tujuan Tuhan adalah memakmurkan kita untuk kemakmuran penggenapan rencana-Nya di bumi. (Coba baca sekali lagi mulai dari kata Pembebasan) Jadi, kalau pintu gerbang menuju kemakmuran itu sudah jebol, maka dengan mudah dan kekayaan akan berbual-bual mengalir dilimpahkan padamu. Katakan Amin!
Intinya, kalau kita sudah bebas dari kendala terbesar yaitu u a n g, maka Tuhan akan dengan mudah melepaskan kekayaan bumi kepada orang-orang yang hatinya tidak terikat dengan u a n g.
Orang-orang di bawah ini namanya Participants (termasuk yang di tengah juga, baca: bebas daftar pengamatan one to four). Participant artinya orang yang berpartisipasi dalam rencana Tuhan untuk memperlebar kapling Sorga di bumi dengan u a n g mereka yang dipercayakan lewat kami. Dengan uang mereka, kami menuai jiwa-jiwa banyak banget. Nggak ada kebanggaan, semua dari Tuhan, dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan – kami cuman pengelola, memberi sebagaimana yang diperintahkan Tuan kami. Here we are
Tulisan ini saya ambil dari www.Maqdalene.net bagi anda yang inginmelihat tulisan dari DR. Maqdalene Kawotjo bisa mengunjungi WEB ini.
Kata Mutiara
" Jangan engkua melihat dirimu sendiri seperti dunia melihat engkau,, TETAPI lihatlah dirimu sendiri seperti Yesus Kristus Melihat engkau"
Sehingga engkau akan melihat dirimu sendiri sangat berharga, Karena engkau juga sangat BERHARGA dan MULIA dimata-NYA
"Yesaya 43: 4a"
Sehingga engkau akan melihat dirimu sendiri sangat berharga, Karena engkau juga sangat BERHARGA dan MULIA dimata-NYA
"Yesaya 43: 4a"
Rabu, 21 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
